Ilustrasi, sumber foto: GBALLGIGGSPHOTO/Shutterstock
Pernahkah kamu menahan buang air kecil karena takut menggunakan WC umum atau tiba-tiba tidak ke kamar mandi karena banyak orang di sekitarmu? Mungkin itu tanda paruresis.
Paruresis atau dikenal juga dengan istilah Shy Bladder Syndrome atau Bashful Bladder Syndrome dapat membuat penderita rela menahan kencing karena merasa cemas dan tidak nyaman jika harus ke toilet umum atau melakukannya di tempat yang ramai.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat orang yang mengalaminya enggan keluar rumah. Nah, berikut beberapa informasi tentang paruresis yang perlu kamu ketahui.
1. Tidak bisa buang air kecil bila ada orang disekitarnya
Melansir Healthline, paruresis adalah kondisi ketika seseorang takut menggunakan toilet saat ada orang lain di sekitarnya. Akibatnya, mereka akan mengalami kecemasan saat harus menggunakan toilet di tempat umum.
Menurut International Paruresis Association, paruresis mempengaruhi sekitar 7 persen dari populasi umum. Di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar 20 juta orang mengalami paruresis.
Paruresis juga dianggap fobia sosial, artinya seseorang merasa malu dan takut dikritik oleh orang lain saat melakukan sesuatu di depan umum. Dalam hal ini adalah buang air kecil atau menggunakan toilet umum.
Kebanyakan penderita paruresis mengalami kesulitan buang air kecil di toilet umum. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi saat kamu sedang berada di rumah teman atau saudara, bahkan di rumah sendiri jika ada orang atau tamu lain yang berkunjung. Biasanya toilet di rumah menjadi tempat mereka bisa buang air besar secara konsisten.
2. Penyebab munculnya paruresis
Perasaan cemas atau takut seringkali dialami oleh penderita paruresis. Beberapa faktor yang dikaitkan dengan penyebab paruresis meliputi:
Faktor lingkungan, seperti pengalaman diejek, dilecehkan atau dipermalukan oleh orang lain terkait penggunaan toilet
Kecenderungan genetik terhadap kecemasan
Faktor fisiologis termasuk riwayat kondisi medis yang dapat mempengaruhi kemampuan buang air kecil
Meski dianggap fobia sosial, paruresis bukanlah penyakit mental. Namun, paruresis menunjukkan kondisi kesehatan mental yang membutuhkan dukungan dan perawatan.
Melansir Better Health Channel, paruresis bukanlah kondisi fisik karena tidak ada yang salah dengan saluran kemih. Sfingter harus di relaksasi agar urin mengalir dari kandung kemih ke uretra.
Kecemasan tentang buang air kecil merangsang sistem saraf dan menutup sfingter. Kegagalan buang air kecil juga meningkatkan kecemasan, terutama jika kandung kemih terasa penuh dan tidak nyaman.
Seperti yang sudah dijelaskan di laman WebMD, ada beberapa hal yang dapat memicu seseorang kesulitan menggunakan WC umum, seperti:
Kurangnya privasi di toilet umum terutama di toilet pria yang hanya di partisi atau tidak
Banyak orang lain di toilet atau dikelilingi oleh orang asing dapat memicu paruresis
Kondisi emosional seperti kecemasan, amarah, ketakutan atau stres dapat membuat seseorang sulit buang air kecil
3. Merasa ingin mengubah perilaku untuk menghindari penggunaan WC umum
Orang dengan paruresis takut buang air kecil di toilet umum atau saat ada orang di sekitar. Mereka mungkin mencoba menggunakan toilet, tetapi tidak bisa.
Penderita paruresis akan sering mencoba mengubah perilakunya untuk menghindari penggunaan toilet umum, seperti:
Menghindari situasi sosial, perjalanan, atau kesempatan kerja karena takut buang air kecil di tempat umum
Minumlah lebih sedikit air untuk menghindari buang air kecil terlalu banyak
Mengalami perasaan cemas saat memikirkan atau mencoba menggunakan WC umum, seperti detak jantung yang cepat, berkeringat, gemetar bahkan sampai pingsan.
Carilah selalu toilet yang kosong atau hanya memiliki satu toilet
Pulanglah untuk makan siang atau istirahat lain untuk buang air kecil lalu kembali beraktivitas
Usahakan untuk menggunakan toilet sesering mungkin di rumah, hilangkan kebutuhan untuk melakukannya di tempat umum
4. Dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari
Jika tidak diobati, paruresis akan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Menahan buang air kecil terlalu lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk meningkatkan risiko terkena infeksi saluran kemih atau batu ginjal.
Kecemasan yang dirasakan terkait dengan paruresis juga dapat menyebabkan seseorang mengubah perilakunya untuk menghindari pergi ke tempat umum, seperti ke pesta, acara olahraga, atau aktivitas lain di luar rumah. Hal ini dapat mempengaruhi hubungan dengan teman, keluarga dan menghambat kemampuan untuk bekerja di kantor.
5. Pengobatan paruresis
Dirangkum dari beberapa sumber, pengobatan paruresis biasanya melibatkan kombinasi dukungan kesehatan mental oleh seorang spesialis dan terkadang kebutuhan akan pengobatan. Perawatan meliputi:
Teknik relaksasi, mempelajari berbagai strategi untuk membantu mengurangi kecemasan
Psikoterapi, konseling yang membantu pasien menghadapi masalah dan mengajarkan pemecahan masalah
Terapi perilaku kognitif, dengan mengubah cara berpikir dan berperilaku
Terapi eksposur (graduated exposure therapy), program yang dilaksanakan secara bertahap yang melibatkan upaya buang air kecil secara sengaja di berbagai lokasi toilet, dari yang paling mudah hingga yang paling sulit. Misalnya, mulai dari toilet rumah sendiri hingga toilet umum yang ramai. Terapi ini akan lebih berhasil jika sering dilakukan
Selain itu, obat-obatan juga dapat diresepkan untuk mengatasi kecemasan, seperti obat kecemasan atau antidepresan.
Menahan buang air kecil sesekali mungkin tidak berbahaya. Namun jika sering menimbulkan gangguan kesehatan. Jika upaya menahan buang air kecil terjadi karena takut menggunakan toilet, terutama saat berada di tempat umum, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah agar kondisinya tidak semakin parah.
Situs Poker Online, Poker88, Agen Judi Poker Online, 373poker










0 Comments