Seorang pengguna Facebook bernama Khir Johari menemukan sebuah buku latihan matematika abad ke-19 yang ditulis dengan gaya bahasa Belanda khas Indonesia. Ia memberi gambaran seperti apa kehidupan di Indonesia saat Belanda dijajah oleh sederet soal matematika.


Buku tersebut berjudul 'Here Are Some Hitoengan' yang berarti 'Inilah Beberapa Hitungan' dalam bahasa Indonesia. Buku ini ditulis dengan ejaan bahasa Indonesia kuno ala Belanda, yang banyak menggunakan huruf khusus Belanda seperti 'oe' yang dibaca 'u' dan 'j' yang dilafalkan seperti huruf 'y'.


"Tidak, ini bukan tentang angka. Buku ini bercerita lebih banyak tentang manusia biasa, kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai titik waktu. Buku ini memberi kita pandangan yang komprehensif tentang masyarakat, budaya dan orang-orang," tulis Johari dalam postingan Facebook, seperti dikutip dari situs Mashable, Kamis, 11 Maret 2021.


Ia juga mencontohkan penggunaan kata 'Malajoe' sebagai pengganti kata 'Melayu'. Meski 'Malajoe' terdengar seperti bahasa dari China, nyatanya kata 'Joe' berasal dari bahasa Belanda. Buku tersebut ditulis untuk diedarkan di kota Batavia, atau demikian orang Belanda menyebutnya Ratu Timur yang kini berganti nama menjadi Jakarta.


Isu-isu yang menjadi fokus buku ini berkisar pada keuntungan, sewa bulanan, pinjaman, angsuran, upah, dan harga eceran. Buku ini memiliki banyak konsep tentang mengembara, mungkin sesuai dengan zaman ketika orang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari peruntungan yang lebih baik di tempat lain.


Konsep tersebut masih relevan hingga saat ini, di mana banyak orang Asia Tenggara memilih untuk berimigrasi, bukan karena ketidaksetiaan kepada komunitas mereka, melainkan sebagai upaya untuk membuat hidup lebih baik bagi diri mereka sendiri dan orang yang mereka cintai.


Ada juga perbedaan yang jelas antara masyarakat pedesaan dan perkotaan. Orang pedesaan disebut sebagai 'orang kampoeng' yang secara harfiah berarti orang desa. Saat itu perempuan tidak diperlakukan dengan adil.


Buku ini juga memaparkan masalah lain, seperti kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan selalu berpenghasilan paling rendah. Kata-kata yang ditampilkan jarang digunakan saat ini atau sudah ketinggalan zaman. Sebut saja kata 'anggur' yang digunakan untuk menyebut anggur.


Saat ini kata 'anggur' hanya digunakan untuk menyebut anggur. Kemudian 'nyiur' dan 'krambil' untuk kelapa, 'kamedja' untuk baju berkerah. Kata 'kamedja' berasal dari bahasa Portugis 'camisa'.


Mereka juga menambahkan kata 'si' sebelum nama seseorang. Ini digunakan untuk orang-orang yang tidak hadir dalam percakapan, seperti 'Si Anna', 'Si Mark', 'Si Roha' atau 'Si Maruli'.


Meski begitu, kata 'si' masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dan Malaysia modern. Misalnya, jika seseorang bertanya, "Kemana Danial pergi?, Kata yang keluar adalah" Kemana Danial pergi? Tapi kata-kata ini tidak digunakan sesering sebelumnya, meski masih ada.


Buku matematika ini telah memberikan wawasan yang luar biasa tentang Indonesia ketika dijajah oleh Belanda. Waktu telah banyak berubah sejak saat itu. Namun sungguh menakjubkan bisa melihat nuansa Tanah Air berabad-abad silam, jauh sebelum kemerdekaan.

Situs Poker Online, Poker88, Agen Judi Poker Online, 373poker