Ilustrasi, sumber foto: Istimewa


373Poker - Sejak Minggu (19/9) hingga Selasa (21/9) malam, otoritas Spanyol memastikan telah menemukan jenazah delapan migran yang tewas di lepas pantai Spanyol.


Di antara delapan jenazah, tiga di antaranya adalah wanita dan seorang anak. Melansir dari Al Jazeera, polisi Spanyol mengatakan bahwa mereka terus menyelidiki kasus tersebut.


Ditemukan di garis pantai sepanjang 20 km (12,4 mi) di provinsi Almeria, Spanyol selatan

https://twitter.com/ajplus/status/1440451286290231300?s=20


Jenazah delapan migran Aljazair dan Maroko ditemukan oleh pihak berwenang Spanyol dalam tiga hari, mulai Minggu. Polisi juga menambahkan bahwa mereka ditemukan di sepanjang garis pantai sepanjang 20 km (12,4 mil) di pantai provinsi Almeria, Spanyol selatan, dilansir Euro News.


“Antara Minggu dan Selasa pagi, delapan mayat ditemukan di sepanjang pantai. (Mereka) yang berasal dari satu atau lebih kapal" kata pihak berwenang Almeria.


Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa mereka masih melakukan proses penyelidikan hingga saat ini.


Para migran diyakini naik kapal dari Maroko atau Aljazair

https://twitter.com/_NewsCentral/status/1440402961268502532?s=20


Polisi Spanyol mengatakan pada konferensi pers pada hari Selasa bahwa kapal-kapal yang ditumpangi para migran kemungkinan besar berasal dari kapal Maroko atau Aljazair.


Perjalanan yang telah mereka tempuh setidaknya 200 km (124 mil) yang telah melintasi Laut Tengah bagian barat. Tujuan para migran ingin berlabuh ke Eropa.


Perahu berkecepatan tinggi yang digunakan oleh penyelundup manusia dianggap lebih aman daripada perahu kayu yang lebih kecil dan perahu karet tipis yang terkadang digunakan para migran, lapor Al Jazeera.


Hingga kini, penyebab kematian delapan migran yang ditemukan di pesisir pantai provinsi Almeria itu masih dipertanyakan.


Tingginya arus kedatangan migran di Spanyol


Sejauh tahun ini, 10.701 migran dan pengungsi telah berhasil menduduki pantai selatan Spanyol, atau Kepulauan Baleriac melalui laut. Sejauh ini, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dikatakan meningkat menjadi 1.680.


Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan bahwa dari angka-angka ini, setidaknya 238 orang telah meninggal dalam perjalanan sejak awal tahun 2021.


Lebih lanjut, IOM juga menyatakan tingginya angka kematian para migran dan pengungsi tersebut karena jalur yang mereka tempuh menuju Eropa, yakni antara Libya dan Italia yang merupakan salah satu jalur paling mematikan pada tahun 2021, dengan perkiraan korban jiwa 741 jiwa.


Para migran yang mempertaruhkan diri menyeberangi laut dengan perahu sederhana dengan puluhan orang di dalamnya, hanya menginginkan kehidupan yang layak. Ingin lepas dari kemiskinan, konflik, kerja paksa dan ancaman lain yang ditemukan di negara mereka sendiri. Dengan harapan, jika mereka berada di Eropa, kehidupan mereka akan lebih baik.