Ilustrasi, sumber foto: Bendera negara Guatemala

373POKERKantor kejaksaan Guatemala akan menghukum mantan personel militer yang dicurigai terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan lawan politik. Bahkan korban dari peristiwa memilukan ini diketahui mencapai lebih dari 100 orang.

Sejak akhir Mei, pihak berwenang Guatemala telah menangkap dua belas mantan militer yang dituduh terlibat dalam pembunuhan massal selama Perang Saudara Guatemala.


Hakim sudah memiliki bukti yang kuat untuk menindak pelaku 

Pada Rabu (09/06/2021) Kejaksaan Guatemala akan menghukum enam mantan anggota militer yang diduga ikut serta dalam pembunuhan massal tersebut. Hakim Miguel Angel Galvez mengatakan, pihaknya telah menemukan bukti kuat untuk menghukum para pensiunan tentara tersebut.

Namun, tindakan hukum terhadap mantan personel militer yang diketahui melakukan kejahatan ini menghadapi masalah. Pasalnya, sejumlah deputi dari partai konservatif sedang mengusulkan undang-undang yang bisa menghilangkan tanggung jawab pidana bagi mantan personel militer yang ikut serta dalam Perang Saudara Guatemala (1960-1996), dilansir La Jornada.

Ada 12 mantan anggota militer yang ditangkap

https://twitter.com/Epitan_PL/status/1402723157954420742

Dikutip dari Prensa Libre, kasus ini telah diumumkan sejak 27 Mei 2021 ketika 12 orang ditangkap sebagai bagian dari penyelidikan terkait hilangnya 183 orang, termasuk pimpinan mahasiswa dan serikat pekerja. Namun, diketahui bahwa hanya enam mantan personel militer yang akan diadili, sementara enam lainnya tidak dapat hadir karena alasan kesehatan.

Salah satu tersangka yang akan diadili adalah Salan Sánchez yang merupakan mantan penasihat Presiden Alfonso Portillo (2000-2004). Salan dituduh berpartisipasi dalam penghilangan seorang bocah lelaki berusia 12 tahun bernama Juan Pablo Armira Lopez. Setelah anak laki-laki bernama Salan itu berhubungan dengan intelijen Tentara Pemberontak.


Adanya investigasi Diario Militer untuk menindak pelaku kejahatan perang

Para mantan personel militer tersebut terlibat langsung dalam struktur organisasi anti-pemberontak, seperti Direktorat Intelijen Militer (D2), Unit Reserse Teknis, Brigadir Polisi Operasi Khusus dan jaringan intelijen gelap di lingkungan staf kepresidenan yang dijuluki El Archivo.

Sedangkan penyelidikan ini dinamai berdasarkan dokumen militer bernama Diario Militar atau Dossier de la Muerte yang ditemukan pada Mei 1999 oleh Arsip Nasional. Dokumen setebal 73 halaman itu berisi informasi tentang semua organisasi oposisi dan lebih dari 183 orang yang dianggap musuh negara, dilansir dari DW.

Guatemala telah mengalami 36 tahun perang saudara dari tahun 1960-1996. Konflik internal telah menyebabkan kematian dan kerugian lebih dari 200 ribu warga sipil dan 93 persen korban tewas di tangan militer pemerintah, dikutip dari Prensa Libre.